harga genset murah

“Sukses Jadi Caleg..”, Istilah Menyesatkan


(ilustrasi: gila-dunia-gila.blogspot.com)

(ilustrasi: gila-dunia-gila.blogspot.com)



Baru sore tadi saya saksikan beberapa caleg tahun 2009 lalu yang sekarang ’sukses’. Ada beberapa caleg yang berasal dari kaum pekerja informal, seperti tukang sayur. Sekarang ia sukses menjadi anggota legislatif di salah satu daerah di Jawa Barat. Dan ada beberapa orang lagi yang bersala dari kalangan pekerja informal seperti tukang korang yang mencoba peruntungan. Ingin menjadi caleg yang sukses di Pemilu Legislatif 2014.


Istilah ‘sukses menjadi caleg‘ sepertinya sudah jauh dari tujuan menjadi caleg itu sendiri. Menjadi caleg sekarang sudah dilandasi dengan pola pencarian rupiah. Bagaimana tidak, berita yang saya lihat sore tadi saja mengesankan sang anggota legislatif yang dulu bertarung di tahun 2009 sekarang hidup layak, bahkan bisa disebut mewah. Apaka ini tujuan ia dulu menjadi caleg? Memperkaya diri? Jadi terkesan menjadi anggota legislatif adalah utamanya memperkaya diri. Tak jauh berbeda seperti pedagang di pasar yang juga ingin hidup layak secara materil.


Menjadi anggota legislatif setelah lolos menjadi caleg terkesan mencari sebuah profesi baru. Sebuah profesi untuk memenuhi kantong sendiri dengan materi. Dan pada akhirnya, dalam ia menjabat anggota legislatif segala daya dan rekayasa dilakukan dalam setiap kebijakan dan proyek pemerintah untuk memetik hasil (baca: cipratan). Dan setelah tahu betapa mudah dan enaknya mencari uang seperti itu, pemilu tahun berikutnya, sang anggota legislatif tidak malu mencalonkan kembali. Kalau sudah habis usia atau periode pun, kalau bisa anggota keluarga mereka juga mencalonkan diri.


Seolah-olah menjadi anggota legislatif adalah tujuan akhir. Walau sesungguhnya, mencalonkan diri menjadi Caleg adalah awal dari sebuah proses. Bukan tujuan akhir. Saat ia ’sukses’ menjadi seorang anggota legislatif, disitulah kerja yang sesungguhnya. Sebuah kerja untuk menunaikan janji manis saat kampanye dulu. Menuntaskan amanat rakyat daerah untuk membuat kemajuan dan pembangunan di daerah. Jadi, caleg adalah gerbang untuk menunaikan kerja yang sejati.


Dan akhir dari kerja menunaikan amanat menjadi anggota legislatif adalah prestasi. Adalah sumbangsih konkrit dan bermanfaat buat masyarakat sekitar. Bukan sekadar bersolek diri dan memperindah seisi rumah untuk dianggap sukses menjadi anggota legislatif. Orang sudah banyak sadar dan tahu gaji seorang legislatif. Jikalau satu tahun saja, sang anggota legislatif bisa berganti mobil 2 kali saja. Cibiran dan buruk sangka pasti hadir di tengah masyarakat.


Anggota legislatif jangan dianggap sebuah profesi. Namun sebuah beban. Beban untuk menjalankan amahan dan janji. Jangan anggap remeh janji-janji manis yang akhirnya tersia. Orang itu tidak mudah lupa akan janji manis. Orang akan menagih suara yang ia berikan dulu untuk sang caleg. Menagih dengan cara apapun semampunya. Mulai dari nggrenengi (bahasa Jawa: berburuk sangaka) sampai tidak mau menyumbangkan suara mereka kembali nanti.


Menjadi wakil atau pemimpin dari satu daerah pilihan adalah amana yang harus dipertanggung jawabkan. Baik secara wadag duniawi, seperti laporang keuangan dan pelaksanaan program. Maupun secara alam transendental nantinya. Hitung-hitung amal dan dosa perbuatan.


Jadi, tidak ada istilah sukses menjadi Caleg atau anggota legislatif . Mereka dinilai bukan dari capaian mereka menjadi anggota legislatif atau pengumpulan materil mereka. Namun lebih kepada prestasi dan karya nyata selama dan setelah mereka menjabat anggota legislatif.


Salam,


Solo, 08 Desember 2013


10:47 pm



sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/08/sukses-jadi-caleg-istilah-menyesatkan-616771.html

“Sukses Jadi Caleg..”, Istilah Menyesatkan | Unknown | 5

0 komentar:

Posting Komentar